Buku yang saya review ini merupakan buku ke 30 yang saya beli dengan gaji yang saya peroleh dari institusi saya bekerja saat ini. Dan untuk pertama kali pula, koleksi buku saya bergeser dari semula yang bernada Technical References, English Development, Budaya Bali dan Pengembangan Diri, menjadi topik Management Financial. Mengapa? Alasan dasar pasti tentang masalah financial itu sendiri. Dihitung hitung selama 3 tahun menjadi bagian dari institusi ini, belum ada satu pos penghasilan yang bisa menjamin untuk pencapaian satu kata yaitu “Kebebasan Financial” yang acap diproklamirkan oleh para motivator. Apa masalahnya berada pada nominal gaji yang kecil? Tidak juga. Ditempat ini, gaji bulanan saya tergolong cukup tinggi. Itu pun sudah berada dalam hitungan “bersih”. Yah, karena semua keperluan hidup saya sudah dipenuhi oleh institusi ini.
Setelah sekali menghabiskan waktu untuk menyingkap cara perencanaan keuangan Safir dengan membaca buku “Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?”, membuka paradigma baru tentang bagaimana mengelola keuangan. Maksudnya jelas. Menumbangkan dominasi wacana dimasyarakat tentang, “Jangan mau seumur hidup jadi orang gajian….”, atau “Mau kaya, jangan jadi karyawan!” dan lain lain. Karena jawabnya jelas pula. Keinginan untuk menjadi kaya, sekarang tergantung pada bagaimana cara kita mengelola keuangan itu sendiri.
Bisa saya analogikan dengan paradigma di tahun 90an yang menyatakan IQ (intelegent Quotient) lebih penting ketimbang EQ (Emosional Quotient). Mana yang benar? Saya tidak berani, dan tidak punya kapasitas untuk memutuskan. Intinya, apa yang diyakini satu dekade kemaren, kini telah bergeser. Tentu hal tersebut telah didasarkan pada serangkaian survey pada masyarakat.
Nah, setelah membaca buku ini, saya memiliki keyakinan lain bahwa; dengan kondisi saya yang notabene sebagai karyawan, saya memberanikan diri untuk mulai yakin bahwa saya juga bisa kaya. Sepanjang saya mulai membenahi metode pengelolaan keuangan saya.
Buku ini, seperti apa yang saya ungkap sebelumnya, menekankan pada bagaiman kita mengelola keuangan. Menentukan pos pos penghasilan dan pengeluaran untuk selanjutnya menentukan prioritas terhadap sub pos. Termasuk didalamnya adalah menyisihkan beberapa penghasilan kita untuk ditabung atau untuk diinvetasikan. Mungkin terasa sulit bagi kita untuk melakukan ini, mengingat nominal gaji kita masih standard. Safir menganjurkan melakukan 3 hal berikut untuk bias menyisihkan gaji untuk tabungan atau investasi.
- Menabung dimuka, jangan dibelakang. Maksudnya, menabunglah sesegera mungkin setelah kita menerima gaji, dan bukan menunggu setelah kita melakukan belanja bulanan.
- Minta tolong kantor yang memotongkan untuk kita. Agar gaji yang kita terima sudah dapat kita pakai belanja bulanan secara langsung, kita bias meminta kantor untuk memotongkan sejumlah gaji untuk langsung dimasukkan ke dalam rekening tabungan.
- Pakai celengan. Lebih dimaksudkan untuk mengurangi belanja harian. Kuatkan tekad untuk memasukkan celengan setiap kita menemukan lembaran 5000 misalnya. Dan bertekadlah untuk tidak menggunakan uang dalam celengan itu untuk belanja.
Kiat no 1. Beli sebanyak mungkin harta produktif.
Harta produktif yang dimaksud disini adalah harta yang memberikan penghasilan kepada anda, entah bulanan maupun penghasilan berupa keuntungan bila dijual lagi. Contoh dari harta produktif ini antara lain: Deposito, Rumah yang disewakan, Reksadana pendapatan tengah (dari Tri Megah) dll.
Segera setelah mendapatkan gaji, prioritaskan untuk memiliki pos pos harta produktif sebelum anda membayar pengeluaran anda yang lain. Kalau perlu, pelajari seluk beluk masing masing harta produktif tersebut.
Kiat no. 2. Atur Pengeluaran Anda.
Usahakan untuk tidak mengalami defisit. Karena defisit adalah sumber semua masalah besar yang mungkin muncul dimasa mendatang. Maka dari itu, pengaturan keuangan sangat mutlak dilakukan. Antara lain dengan cara:
- Membedakan kebutuhan dan keinginan. Barang barang yang sifatnya “butuh” korelasinya erat dengan hidup. Tanpa barang atau jasa tersebut, hidup kita akan terasa sulit. Tapi, tidak semua barang atau jasa yang “ingin” kita miliki berhubungan dengan hidup. Jadi bijaklah dalam pembelian barang yang bersifat “ingin”.
- Pilihlah prioritas terlebih dahulu. Pos pos pengeluaran secara umum dapat dikelompokkan dalam 3. Yaitu biaya hidup, Cicilan hutang dan Premi asuransi.
· Biaya hidup adalah semua pos pengeluaran yang biasa anda lakukan agar anda, keluarga anda, serta rumah anda tetap bias hidup.
· Cicilan hutang adalah semua pos pembayaran hutang yang biasa anda lakukan setiap bulan. Seperti cicilan rumah, cicilan motor dll.
· Premi asuransi adalah pengeluaran yang anda lakukan untuk membayar pengeluaran pengeluaran asuransi anda.
Safir menyarankan urutan prioritas bermula dari Cicilan utang, premi asuransi kemudian biaya hidup. Penentuan ini didasarkan pada tingkat resiko bila kita tidak memenuhinya.
- Ketahui cara yang baik dalam mengeluarkan uang untuk setiap pos pengeluaran. Menekankan pada penghematan. Penghematan yang dimaksud adalah mencari cara agar anda bisa mengeluarkan uang yang lebih sedikit untuk bisa mencapai tujuan yang sama. Bukan mengurangi kenyamanan kita.
Kiat no. 3. Hati hati dengan utang.
Kita harus mengetahui timing yang tepat untuk menentukan kapan saatnya kita bisa dan boleh berutang dan kapan kita tidak. Kita boleh berutang bila:
1. Ketika utang tersebut digunakan untuk sesuatu yang produktif.
2. Ketika utang tersebut dibelikan barang yang nilainya hampir pasti akan naik.
3. Ketika anda tidak punya cukup uang tunai untuk membeli barang barang yang benar benar anda butuhkan, walaupun nilai barang itu menurun.
Kapan sebaiknya anda tidak berutang? Jawabnya tentu kebalikan dari diatas. Yaitu ketika barang yang anda beli nilainya menurun dan anda punya uang untuk membelinya secara tunai.
Dalam setiap pengambilan utang, anda harus tetap memperhatikan dengan siapa anda berutang. Untuk nominal, ambil cicilan utang yang sesuai dengan penghasilan anda dan perhatikan prosedur pembayaran utang anda. Jangan lupa untuk tetap menjalin hubungan dengan si pemberi utang agar kita nantinya bias mendapatkan kesempatan untuk fleksibilitas pembayaran.
Kiat no. 4. Sisihkan untuk pos pos pengeluaran di masa yang akan datang.
Pos pos pengeluaran dimasa depan yang harus dipersiapkan sejak sekarang, yang umumnya paling dibutuhkan antara lain:
1. Pendidikan anak.
2. Pensiun
3. Properti dan Kepemilikan Lain.
4. Bisnis.
5. Liburan dan Perjalanan Ibadah.
Kiat no. 5. Miliki Proteksi
Proteksi yang dimaksud adalah perlindungan bila terjadi satu resiko pada keluarga anda. Yang diproteksi disini adalah sector keuangannya. Resiko yang mungkin bias terjadi pada kehidupan anda antara lain adalah:
1. Kematian.
2. Kecelakaan.
3. Sakit.
4. Musibah pada rumah.
5. Musibah pada kendaraan
6. Pemutusan hubungan kerja.
Nah, ada 3 hal yang bisa anda lakukan untuk memproteksi akibat resiko yaitu:
1. Miliki asuransi.
Asuransi yang bisa diambil, secara umum ada 3 jenis. Yaitu; Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan dan Asuransi Kerugian. Dengan Asuransi Jiwa, bila terjadi resiko kematian pada diri anda, perusahaan asuransi akan memberikan sejumlah uang yang biasa disebut uang pertanggungan kepada ahli waris anda. Uang pertanggungan inilah yang nantinya diharapkan bisa dikelola oleh ahli waris anda.
Asuransi kesehatan merupakan program asuransi yang memberikan penggantian biaya kesehatan yang sifatnya untuk penyembuhan dan pemeliharaan kesehatan.
Asuransi Kerugian biasanya memberikan uang pertanggungan kalau kalau properti atau barang barang anda (seperti rumah dan kendaraan) kena musibah. Contohnya kebakaran rumah atau kecelakaan kendaraan di jalan raya.
2. Miliki dana cadangan.
Dana cadangan akan sangat terasa manfaatnya ketika anda sudah tidak bekerja lagi, alias terkena PHK. Selama proses pencarian pekerjaan baru, anda akan sangat memerlukan dana cadangan ini. Idealnya jumlah dana cadangan ini adalah 3,6, sampai 12 bulan jumlah pengeluaran bulanan keluarga anda.
3. Miliki sumber penghasilan diluar gaji yang kalau bisa didapat secara terus menerus.
Maksudnya sudah tersirat jelas. Sebagai antisipasi jika suatu saat gaji yang anda dapatkan tiap bulan, tiba tiba berhenti. Untuk memberikan back up terhadap dana cadangan pada opsi ke 2, kita bisa memiliki sumber penghasilan lain diluar gaji. Contohnya adalah bisnis. Bisnis di internet juga merupakan penghasil uang yang efektif dengan modal yang terjangkau. Anda bisa mencobanya. Jika dianalogikan, maka dana cadangan dapat diartikan sebagai proteksi jangka pendek. Sedangkan sumber penghasilan diluar gaji merupakan proteksi bagi anda untuk jangka panjang.
2 comments:
bagus,,, sangat inspirativ,,,, ttp semangat,,,
sory lp kasih id,,,hehehe (dION JAYADIVE)
Post a Comment